Veten, Panganan Lokal Pulau Buru yang Menjaga Tradisi Kebersamaan Warga
Font Terkecil
Font Terbesar
INDOLIN.ID | PULAU BURU — Di tengah arus modernisasi yang bergerak cepat dan mengubah pola konsumsi masyarakat, warga Pulau Buru tetap menjaga satu tradisi pangan lokal yang sarat makna sosial.
Tumbuhan yang dikenal sebagai hotong atau dalam bahasa Buru disebut veten bukan sekadar bahan makanan, melainkan simbol solidaritas dan kebersamaan yang diwariskan lintas generasi.
Hotong (Setaria italica), sejenis serealia lokal yang telah lama dibudidayakan masyarakat, memiliki posisi penting dalam kehidupan sosial warga. Nilai strategisnya tidak hanya terletak pada kandungan gizinya sebagai sumber karbohidrat alternatif, tetapi terutama pada tradisi kolektif yang menyertai proses panen dan konsumsinya.
Di kalangan masyarakat Buru, panen veten bukan sekadar aktivitas agraris. Ia adalah peristiwa sosial. Warga berkumpul di ladang, bekerja bersama, saling membantu, lalu menikmati hasil panen secara kolektif. Tradisi makan bersama inilah yang menjadi ruang mempererat relasi kekerabatan, memperkuat kohesi sosial, serta meneguhkan identitas budaya lokal.
Salah satu pemuda asal Pulau Buru, Marsel Waemesse, menilai tradisi veten memiliki makna sosial yang tidak boleh hilang ditelan zaman. Menurutnya, generasi muda memikul tanggung jawab moral untuk menjaga warisan budaya tersebut.
“Harapan terbesar dari saya, generasi penerus tetap menjunjung tinggi rasa kebersamaan sebagai daya tarik tradisi yang kokoh dan unik serta perlu dilestarikan dari masa ke masa,” ujarnya, pada Sabtu.(28/2/2026)
Ia menambahkan, di tengah gaya hidup modern yang cenderung individualistis, tradisi panen dan makan bersama veten justru menjadi pengingat pentingnya nilai kolektivitas masyarakat Buru. Tanpa kesadaran dan komitmen generasi muda, tradisi lokal seperti ini berpotensi memudar perlahan.
Pengamat budaya lokal melihat praktik sosial seperti tradisi veten memiliki potensi besar, bukan hanya sebagai warisan budaya tak benda, tetapi juga sebagai daya tarik wisata berbasis kearifan lokal.
Jika dikelola secara berkelanjutan, tradisi ini dapat memperkuat identitas daerah sekaligus membuka peluang ekonomi masyarakat melalui pengembangan produk pangan lokal, festival panen, hingga ekowisata berbasis komunitas.
Namun, tantangan pelestarian tetap nyata. Perubahan pola konsumsi masyarakat, menurunnya minat generasi muda terhadap pertanian tradisional, serta minimnya dokumentasi budaya menjadi faktor yang dapat mengancam keberlanjutan tradisi ini. Karena itu, sinergi antara tokoh adat, pemerintah daerah, dan komunitas pemuda menjadi kunci menjaga eksistensi veten sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Buru.
Dalam perspektif budaya Nusantara, tradisi veten merepresentasikan pola peradaban agraris yang menempatkan kerja kolektif sebagai fondasi kehidupan sosial. Sejak masa lampau, masyarakat kepulauan membangun sistem sosial berbasis gotong royong, sebuah nilai yang menjadi benang merah peradaban Nusantara.
Panen bersama dan makan bersama bukan sekadar ritual konsumsi, melainkan mekanisme sosial untuk merawat solidaritas. Dalam konteks budaya Buru, veten berfungsi sebagai media sosial tradisional, ruang interaksi, pertukaran cerita, penguatan nilai adat, dan transmisi pengetahuan antargenerasi. Di situlah pangan bertransformasi menjadi simbol.
Secara antropologis, tradisi seperti ini mencerminkan tiga lapis makna:
1. Makna Ekologis – Ketergantungan masyarakat pada tanaman lokal menunjukkan harmoni dengan lingkungan. Hotong sebagai serealia adaptif mencerminkan kecerdasan ekologis masyarakat Buru dalam memanfaatkan sumber daya alam setempat.
2. Makna Sosial – Kerja kolektif dalam panen memperkuat struktur sosial berbasis kebersamaan. Nilai gotong royong yang tercermin dalam tradisi veten sejalan dengan karakter masyarakat kepulauan yang komunal.
3. Makna Identitas – Di tengah penetrasi pangan impor dan perubahan selera generasi muda, mempertahankan veten berarti mempertahankan identitas kultural. Pangan lokal menjadi penanda jati diri.
Dalam kerangka geopolitik budaya Nusantara, ketahanan pangan lokal seperti veten juga memiliki dimensi strategis. Kemandirian pangan berbasis sumber daya lokal bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga kedaulatan budaya. Ketika masyarakat tetap menanam, mengolah, dan mengonsumsi pangan tradisionalnya, mereka sedang mempertahankan memori kolektif sekaligus posisi tawar identitasnya di tengah arus globalisasi.
Karena itu, pelestarian veten tidak cukup hanya sebagai romantisme budaya. Ia perlu didorong menjadi bagian dari kebijakan pangan daerah, masuk dalam kurikulum muatan lokal, serta dipromosikan sebagai simbol kebanggaan masyarakat Pulau Buru.
Di tengah perubahan zaman, hotong atau veten membuktikan bahwa pangan lokal bukan sekadar soal kebutuhan perut. Ia adalah perekat sosial, penanda identitas, dan cerminan watak kolektif masyarakat Nusantara. Selama nilai kebersamaan terus dirawat, tradisi panen veten diyakini akan tetap hidup, menjadi warisan budaya yang tidak hanya dikenang, tetapi dijalankan.(es/ton)
