Buku Laku Spiritual Pak Harto Diluncurkan, Ungkap Sisi Batin Soeharto yang Jarang Diketahui
Font Terkecil
Font Terbesar
INDOLIN.ID | JAKARTA — Laku Spiritual Pak Harto menjadi perhatian para akademisi, pegiat literasi, hingga pemerhati sejarah nasional. Buku tersebut mencoba membedah sisi spiritualitas Soeharto yang selama ini dinilai lebih banyak berkembang melalui cerita lisan dan pembicaraan informal di masyarakat.
"Dalam buku ini saya sedikit ungkap sisi lain kebiasaan Pak Harto, utamanya perilaku spritual yang belum banyak diketahui publik," kata Bambang Wiwoho, penulis dan wartawan Senior dalam Konferensi Pers Peluncuran Buku Laku Spiritual Pak Harto di Lantai 5, Sekolah PascaSarjana Pembangunan Berkelanjutan UI, Jakarta, pada Senin, 8 Juni 2026.
Menurutnya, gagasan utama buku itu lahir dari keinginan mendalami apakah sosok Pak Harto memang memiliki laku spiritual yang kuat dalam perjalanan kepemimpinannya. Penelitian dilakukan dengan membaca berbagai referensi, menelaah catatan sejarah, hingga mengamati pola pengambilan keputusan Soeharto selama menjadi pemimpin nasional.
"Ada banyak cara membaca Soeharto. Sejarah resmi membacanya sebagai presiden yang memimpin Indonesia selama 32 tahun. Para ekonom membacanya melalui angka-angka pertumbuhan," kata dia.
Sementara sebagian masyarakat mengenangnya sebagai simbol stabilitas yang pernah menghadirkan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari.
Namun B. Wiwoho memilih jalan yang lain. Ia tidak memasuki sosok Soeharto melalui ruang sidang kabinet, laporan pembangunan lima tahunan, ataupun pertarungan politik yang membentuk dan menjatuhkan Orde Baru. Ia masuk melalui sebuah pintu yang lebih sunyi, dunia batin.
Dalam Buku Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen, Soeharto tidak pertama-tama hadir sebagai Presiden Kedua Republik Indonesia.
"Ia tampil sebagai seorang manusia Jawa yang menjalani laku. Seorang pribadi yang percaya bahwa kekuasaan tidak hanya lahir dari strategi dan kecakapan politik, tetapi juga dari kemampuan membaca tanda-tanda zaman, mengolah batin, dan menjaga hubungan dengan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri," paparnya.
Pilihan sudut pandang inilah yang membuat buku ini berbeda. Selama bertahun-tahun, kisah mengenai semadi, guru spiritual, tempat-tempat keramat, dan perjalanan batin Soeharto lebih banyak hidup sebagai cerita dari mulut ke mulut. Sebagiannya dipercaya, sebagiannya dicurigai sebagai mitos yang sengaja dipelihara oleh kekuasaan.
Wiwoho berusaha menempatkan semua itu bukan sebagai sensasi, melainkan sebagai bagian dari lanskap kebudayaan yang membentuk cara seorang pemimpin memandang dunia.
Buku ini sesungguhnya tidak hanya berbicara tentang Soeharto. Tokoh utama yang lebih besar justru adalah Kejawen itu sendiri. Melalui kisah Soeharto, pembaca diajak memasuki suatu alam pikiran yang selama berabad-abad ikut membentuk perilaku politik di Jawa, keyakinan bahwa kekuasaan harus selaras dengan harmoni semesta, bahwa seorang pemimpin perlu mengendalikan dirinya sebelum mengendalikan orang lain, dan bahwa keberhasilan tidak cukup ditentukan oleh kecerdasan, melainkan juga oleh ketepatan membaca waktu.
Di tengah dominasi cara berpikir modern yang serba kuantitatif, pendekatan semacam ini tentu terasa tidak lazim. Kita hidup dalam zaman yang terbiasa menjelaskan politik melalui survei elektabilitas, algoritma media sosial, kekuatan modal, dan manuver elite.
Akan tetapi sejarah Indonesia sering kali memperlihatkan bahwa realitas politik tidak selalu bergerak menurut logika yang sepenuhnya rasional. Simbol, mitos, dan keyakinan kolektif kerap memiliki daya pengaruh yang tidak kalah besar dibandingkan institusi formal.
Karena itu, menarik ketika Wiwoho mengangkat konsep-konsep seperti wahyu kekuasaan, kebatinan, dan angon wayah—kemampuan seorang pemimpin untuk memahami waktunya sendiri. Dalam pandangan Jawa, seorang pemimpin tidak sekadar hadir karena prosedur politik.
"Ia hadir karena zamannya menghendaki. Dan ketika zaman itu berakhir, ia harus mampu mengenali tanda-tandanya," ujarnya.
Di titik inilah buku ini menjadi lebih dari sekadar catatan mengenai spiritualitas Soeharto. Ia berubah menjadi refleksi tentang kekuasaan itu sendiri. Bahwa kekuasaan yang sehat bukanlah kekuasaan yang terus-menerus dipertahankan, melainkan kekuasaan yang mengetahui batasnya. Bahwa seorang pemimpin bukan hanya dituntut mampu memerintah, tetapi juga mampu memahami kapan saatnya berhenti.
Sebagai wartawan yang lama berada di lingkungan kekuasaan, Wiwoho memiliki keuntungan berupa kedekatan dengan berbagai sumber dan pengalaman langsung. Hal itu membuat sejumlah bagian buku terasa hidup. Pembaca seakan diajak masuk ke ruang-ruang yang jarang tersentuh laporan jurnalistik sehari-hari. Kita tidak hanya melihat seorang presiden yang mengambil keputusan-keputusan besar, tetapi juga seorang manusia yang bergulat dengan keyakinan, keraguan, dan pencarian makna.
Meski demikian, buku ini bukan tanpa kelemahan. Pada beberapa bagian, penulis tampak terlalu dekat dengan subjek yang dibahas sehingga jarak kritis menjadi berkurang. Pembaca yang mengharapkan analisis historis yang lebih ketat mungkin akan merasa bahwa sejumlah uraian bergerak di wilayah interpretasi yang sulit diverifikasi secara akademik. Akan tetapi kelemahan itu sekaligus menjadi konsekuensi dari pilihan penulis untuk menjelajahi wilayah yang memang berada di antara sejarah, kebudayaan, dan keyakinan.
Terlepas dari perdebatan tersebut, buku ini memberikan sumbangan penting: ia mengingatkan bahwa sejarah politik Indonesia tidak pernah hanya ditentukan oleh faktor-faktor yang tampak di permukaan. Di balik pidato, kebijakan, pergantian kabinet, dan pergolakan kekuasaan, terdapat dunia simbolik yang ikut bekerja membentuk cara para pemimpin memahami dirinya dan negerinya.
Pada akhirnya, Laku Spiritual Pak Harto, Indonesia, dan Kejawen bukanlah buku yang mengajak pembaca untuk percaya pada mistik. Buku ini justru mengajak kita memahami bahwa dalam sejarah Indonesia, rasionalitas modern dan kebudayaan tradisional tidak pernah benar-benar berjalan terpisah. Keduanya bertemu, bernegosiasi, dan kadang-kadang saling menguatkan dalam diri para pemimpin yang menentukan arah bangsa.
Membaca buku ini serupa memasuki ruang belakang sejarah Indonesia. Di ruang depan, kita melihat politik sebagai peristiwa. Di ruang belakang, kita menemukan politik sebagai laku batin. Dan sering kali, seperti diajarkan tradisi Jawa, yang menentukan arah perjalanan bukanlah suara yang paling keras, melainkan kesunyian yang paling lama dipelihara. (Fr/7)
