Sapi: Titik Didih Darah Dan Air Mata di Ambang Perang Iman
Font Terkecil
Font Terbesar
INDOLIN.ID | JAKARTA — Di sebuah sudut Ramgarh, Mr. Sharma menjalani dua kehidupan yang kontras. Siang hari, jemarinya dengan lembut memahat marmer menjadi rupa dewa-dewi. Namun saat malam tiba, ia memimpin kelompok vigilante yang mendedikasikan hidup untuk menjaga kesucian sapi—hewan yang bagi mereka adalah napas spiritual, namun bagi yang lain adalah sarana ibadah.
Benturan Norma: Antara Sakralitas dan Komoditas
Ini bukan sekadar cerita tentang pemahat batu, melainkan potret mikro dari ketegangan struktural yang terjadi ketika identitas agama bertransformasi menjadi kekuatan paramiliter. Fenomena ini menciptakan etnosentrisme radikal:
Bagi Umat Islam:
Kurban adalah mekanisme distribusi sosial dan ketaatan teologis. Sapi adalah komoditas suci yang "dihidupkan" melalui ritual berbagi.
Bagi Kelompok Sharma:
Sapi adalah totem atau tunggangan para dewa" yang tak tersentuh. Melihat sapi disembelih bukan sekadar melihat kematian hewan, melainkan runtuhnya tatanan alam semesta.
Vigilantisme: Saat Iman Menumbangkan Hukum Negara
Munculnya kelompok penjaga sapi malam hari adalah bentuk vigilantisme di mana warga sipil mengambil alih peran polisi karena merasa "hukum Tuhan" sedang terancam. Tragedi ini sering kali memakan korban jiwa dari kedua belah pihak.
Dalam peristiwa nyata yang mencerminkan narasi ini (seperti kerusuhan di Bulandshahr, Desember 2018), konflik dipicu oleh penemuan bangkai sapi yang diduga hasil penyembelihan.
Amuk massa tak hanya menyasar warga sipil, tetapi juga aparat negara.
Korban di Kedua Sisi: Darah di Atas Nama Keyakinan
Pertempuran antar-iman ini meninggalkan luka yang nyata. Korban yang jatuh sering kali meliputi:
1. Warga Minoritas:
Banyak warga Muslim yang menjadi korban pengeroyokan massal (lynching) hanya karena kecurigaan membawa daging sapi atau dituduh menyembelih hewan suci tersebut.
2. Aparat Kepolisian:
Salah satu korban paling ikonik adalah Inspektur Subodh Kumar Singh. Ia adalah seorang perwira polisi yang tewas ditembak dan dikeroyok massa saat berusaha meredam konflik terkait isu penyembelihan sapi. Ironisnya, ia dibunuh oleh massa yang marah karena polisi dianggap gagal mencegah penyembelihan tersebut.
Paradoks Tuhan dalam Sekat Identitas
Seperti yang disinggung Bertrand Russell dan Yusuf Qardhawi, pertemuan iman bisa berubah menjadi pertempuran ketika ruang publik dikuasai oleh sentimen kelompok (in-group favoritism). Kita terjebak dalam upaya membela Tuhan yang kita beri label berbeda-beda, lalu menggunakan label tersebut untuk saling meniadakan.
Konflik ini tetap "awet" karena mendapatkan asupan energi dari rasa terancamnya identitas.
Di Ramgarh maupun di belahan dunia lain—perdamaian sering kali harus kalah karena sebuah simbol lebih dihargai daripada napas sesama manusia.
Kematian Inspektur Subodh Kumar Singh menjadi simbol betapa berbahayanya vigilantisme sapi di India, di mana petugas negara yang netral pun bisa menjadi sasaran amuk massa ketika mereka berdiri di tengah dua kepentingan iman yang saling berbenturan. (Syam RS)
